Nikah
Pernikahan
Baru berani
buat bahas topik ini sekarang, sebelum sebelumnya, mau mulai nulis selalu aja
ada pikiran ragu lah, takut lah, tapi mulai gemes sendiri dan coba buat bahas
tentang pernikahan in my opinion. Sekali lagi, IN MY OPINION loohh.. jadi yang
gak setuju atau beda pendapat, its okay baby, ngga apa apa, hidup kan gak perlu sama (apasih wkwk).
Mari mulai..
Memasuki
usia yang sekarang, kepala dua, lebih beberapa tahun (blm banyak tp wkwk),
semakin banyak pertanyaan pertanyaan menggemaskan yang sangat sangat tidak
ingin ku jawab, dan biasanya hanya ku jawab dengan senyuman manis sedikit kecut.
“Kapan Nikah Ca?”
Atau tiap
kondangan
“Kapan Nyusul Ca?”
Sebuah pertanyaan
basa basi yang simple tapi sedikit menggelitik hati. Pertanyaan yang di dengar
biasa tapi menurutku itu tidak usah di lontarkan dan ditanyakan. Kenapa?
Guys,
pernikahan adalah sebuah pilihan, dan setiap orang punya pilihannya masing
masing. Pilihan untuk kapan dia akan menikah, dimana dan dengan siapa, bahkan
pilihan untuk menikah atau tidak.
Baper? Enggak,
hanya saja akan lebih menyenangkan hidup tanpa selalu dipertanyakannya
pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan, sama saja halnya dengan pertanyaan
"kapan lulus?"
"kapan punya kerjaan?"
"kapan punya anak?"
"kapan punya cucu?"
dsb
dsb
dsb
its privacy guys.
"kapan lulus?"
"kapan punya kerjaan?"
"kapan punya anak?"
"kapan punya cucu?"
dsb
dsb
dsb
its privacy guys.
Lanjoooooottttt mengenai pernikahan... menurutku,
Pernikahan
adalah hal serius dan super sakral.
Butuh persiapan dalam "wedding" ataupun "marriage" nya (paham lah perbedaannya).
Butuh persiapan dalam "wedding" ataupun "marriage" nya (paham lah perbedaannya).
Dan 2-2nya kudu siap mental dan materi
tentunya. Gak munafik kan bahas materi disini?
Karena untuk nikah butuh duit
cuy, dan gak cuma serebu dua rebu, banyak
lah pokoknya (kata yang sudah sudah).
Untuk syarat nikah nya itu sendiri, sebenarnya tidak mahal, namun karena
adat istiadat yang sudah kental, apalagi di lingkunganku sendiri, pernikahan
akan merogoh kocek yang “lumayan” hehe. Dari mulai sewa gedung yang dari waktu
ke waktunya semakin mehong cyin, juga serba serbinya kayak catering, dekorasi,
kebaya, seragam keluarga, seragam teman teman, seragam tetangga, seragam bu ibu
pengajian, ntap udah. Buanyak.
Dan gak sampe situ, setelah “acara” nikahnya
pun, kita masih harus prepare untuk apa-apa yang dibutuhkan untuk “menunjang”
kelancaran dan kenyamanan hidup bersama, seperti butuh tempat tinggal untuk
dapat memadu kasih berdua (cieelah), dan di dalam tempat tinggal nya pun masa
iya dibiarin kosong, pasti dibutuhkannya perlengkapan-perlengkapan yang juga
dapat menunjang keharmonisan keluarga (hahaha). Lanjut terus sampai
nanti punya anak, butuh ini itu, pendidikan, asuransi, dan banyak hal lagi. Mikirin
duit mah nggak ada abisnya emang wkwk. Tapi disamping itu juga harus tetep percaya kalo rejeki sudah ada yang mengatur, dan seharusnya memang tidak harus di khawatirkan. Tapi namanya manusya, kadang suka ada aja rasa-rasa insecure nya hehe.
Mari kita
lanjut,
selain materi, kita juga kudu siap mental..
Kalian bisa
bayangin, dengan kalian memutuskan untuk menikah dengan manusya pilihan kalian, kalian
akan mengarungi sisa hidup kalian dengan manusya itu. Jatuh bangun, hujan
baday, bahagia tangis, suka duka, kalian lalui sama sama dengan satu orang yang
di pilih itu. Dan tentu harus bertahan dengan apapun yang terjadi. Yang padahal
untuk menyatukan dua kepala, dua pikiran, dua rasa, dua hati, dua sifat, dua
kepribadian, itu semua bukan hal yang mudah. Sangat sangat sulit. Dan sebisa
mungkin itu semua harus jadi satu frekuensi, gak boleh egois. Belum lagi untuk seorang perempuan yang pasti ingin menjadi istri idaman, harus bisa jadi multi talenta, dimana harus mengurus suami, pekerjaan rumah, dan belum lagi yang memutuskan untuk berkarir, semua harus dilakukan dengan seimbang dan sebaik mungkin. Lalu, pada saat sudah memiliki anak, pastinya harus jadi ibu yang keren dong? Dalam artian, seorang ibu harus jadi pintar dan telaten dalam mengurusi anak. Dan menurutku, ini harus memang sudah siap mental dalam menghadapi semuanya. Tapi sekali lagi, ini seharusnya memang tidak perlu dikhawatirkan, karena itu bisa belajar dan biar aja ngalir dengan seiringnya waktu. (Jadi rada gimana gitu bayangin nya wkwk).
Jujur, dari
segi materi ataupun mental, aku belum sampai pada tahap itu, belum siap, belum terlalu mikir sampai sana juga, apalagi untuk kondisi sekarang (iya gue masih jombs)
jadi mungkin pikiran untuk menikah masih jauh hehe.
Beberapa
tahun yang lalu, sekitar 4 taun yang lalu, pengen banget nikah muda, tapi ada
seseorang yang bikin aku merasa “tertampar” dan sadar bahwa nikah itu gak
gampang, makin sini makin sadar sendiri juga ada prioritas- prioritas lain yang
memang harus didahulukan selain menikah.
Tapi di
balik ini semua, aku juga gak mau sendiri terus. Gak mau hidup sendiri. Butuh
manusya yang bisa dijadikan rumah untuk pulang, partner berkeluh kesah, partner
dalam segala hal. Mau. Tapi mungkin belum waktunya. Dan kalo nantinya aku sudah
memutuskan untuk menikah, itu artinya, aku dan cintaku pasangan memang sudah benar-benar
siap.
Untuk sekarang, kita hanya perlu untuk berperilaku baik sebaik baiknya manusya hehe..
Untuk sekarang, kita hanya perlu untuk berperilaku baik sebaik baiknya manusya hehe..
Thats enough,
so sorry tulisan ku yang masih berantakan.
And super
thankyou yang sudah menyempatkan untuk membaca, semoga kalian selalu bahagia!
-Ajka
Komentar
Posting Komentar